Feeds:
Posts
Comments

Sudah satu tahun blog ini bisa dibilang nganggur, entah karena makin sibuknya aktivitas di luar atau karena tangan ini saja yang malas untuk bersahabat dengan tuts komputer yang berwarna hitam itu. Berbeda dengan setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, sampai sepuluh tahun yang lalu apapun itu seseorang pasti berubah. Waktu yang berjalan konsisten memang tidak sejalan dengan karakter orang selalu inkonsisten. Apa yang terjadi dengan hidup, dan blog ini selama ini.

Satu tahun tak ada yang berubah? Ahh ada yang berubah.. perut buncit dengan total kenaikan 10 kilo dibanding saat masih di transirit dulu, ukuran celana yang bertambah, pipi yang katanya makin chubby, ada tambahan lain? parahnya, kolesterol juga ikutan nambah. Tampaknya, sudah menikmati hidup ? yaaaa so far hidup memang harus dinikmati dan dinikmatkan. Dinikmati apa saja yang sedang bernasib baik saban hari, dan dinikmatin kalo lagi apes sehari-hari. Tapi memang dunia luar membuka mata kita, tak cukup buka mata pula juga buka kepala, buka telinga, dan buka-bukaan yang lain( yang baca pasti tau maksudnya). Lantas apa ya saya juga ikutan seperti perut yang membuncit tadi?

Sepertinya iya, cara mandang, ngeliat orang, sudah berkecepatan satu tahun cuma apa boleh buat rumah masih di ciledug, tangerang Indonesia. Yang kalo lagi musim hujan begini Siaga 1 siap-siap jalan kaki dari Kebayoran Lama sampe Cipulir gara-gara tu kendaraan pada numplek-plek ga jalan-jalan. Ya masih tetap di tempat yang sama. Gimana cara berfikirnya? Nah ini dia kelemahannya, maklum tukang acak-acak barang yang suka bikin berantakan kamar ya pikirannya gak jauh beda. Rumit bikin benang kusut tambah kusut. Di suruh ambil jalan pintas malah ambil jalan buntu, gimana sehh?

Saya sekarang lebih suka intuisi dari pada logika ilmu pasti, cuma satu alasan sederhana. Karena dengan intuisi saya bisa tertawa sama anda dan buat diri saya sendiri. Bebas melakukan apa saja dan membahagiakan dahaga kebebasan pikiran. Buat anda yang mendewakan logika, buang jauh-jauh logika anda karena kegilaan peradaban dimulai dari orang yang selalu memakai logika dengan histeria. Yaaa tapi itu tadi, inkonsisten itu lebih dekat dengan intuisi, bukan karena prefiks in di depannya. tapi karena dua-duanya saling bersahabat sejak lama dan membuat koalisi ketidakteraturan.

Nah, ketemu jawabannya : Sudah 1 Tahun ini saya kurang tertawa :D

Nganggur lagi ni blog… Pulang, tidur berangkat lagi… soon i’ll write again

Diplomacy

From now on, i would like to open a new category of writings in this blog. It is called diplomatic terms. Why? It’s more specific way to explain political sciences in daily implementations and indeed the real process. Furthermore, by writing on specific terms of international politics will keep the learning process carry on to understand political sciences specifically in foreign affairs. The field of expertise that diplomats should be able to mastermind.

The first word will be defined in this newly-fresh edition is diplomacy. What is Diplomacy? In free dictionary i found on the web, diplomacy have two definitions. First, diplomacy means the art or practice of conducting international relations, as in negotiating alliances, treaties, and agreements. Secondly, it concerns with the tact and skill in dealing with people. To sum up, aforementioned definition describes us a practical way of how diplomacy is worked, applied and perceived. Therefore i think diplomacy, in international politics term, can be defined as an art or skill in conducting international relations such as negotiating between two different counterpart to achieve agreement on specific issue.

Whadaya think??? Give me your opinion!!!

Akhirnya kabar bahagia itu tercium juga. Penguasa media tak mampu lagi membendung tekanan. Selamat buat kawan-kawanku semua, nikmati jerih payah kami para resigners yang akhirnya membuat perubahan. Bukti bahwa sang pemilik modal sesungguhnya tak cukup punya kekuatan menghadapi kesatuan tenaga dan pikiran kaum buruh.

Ikut berbahagia

AIR

Mulai lagi…

Datang gelisah pergi juga tak jauh beda

Jadi apa??

Untuk apa dia datang dan pergi

Kini yang lalu terbaring menderita

Sementara kamu? Aku tak tahu mau mulai lagi…

(kembali ke asrama senayan)

Malam itu kantor lamaku terlihat sangat indah, dihiasi guyuran hujan yang datang saat matahari mulai undur diri. Dibalik kantor megah dan besar ini ternyata suasana kerja sudah jauh banyak berbeda.

Semua orang di lantai tiga sibuk mencari pijakan baru. Mencari harapan baru yang tidak didapatnya selama ini. Bukankah ini hal biasa?? Dulu memang biasa, tapi sekarang luar biasa. Televisi teririt seIndonesia ini sedang kelimpungan, karena bukan satu-dua orang saja yang pergi. Bukan orang-orang biasa dan kroco-kroco tak penting seperti saya. Tapi satu gerbong kereta penuh sesak yang bercampur. Kroco dan pemimpin coro bersatu!! Tak bisa dikalahkan!! Seperti demonstrasi besar… akhirnya terasa berpengaruh juga.

Pelajaran berharga bagi media yang fokus pada bisnis. Jangan remehkan kroco!! Kroco-kroco yang tak berarti dan dianggap remeh bisa membuat mata terbelalak.

Jangan remehkan isu!! Meremehkan isu berarti membiarkan api menyala dalam sekam. Isu kecil sekalipun harus cepat direspons. Tak cukup hanya janji dan janji. Bila janji tak terealisasi silahkan rasakan.

Jangan anggap manusia seperti mesin!! Manusia bukan mesin, yang bisa seenaknya ditentukan kadar bahan bakarnya. Mesin yang bekerja dengan cukup menekan satu tombol “ON”, lantas semuanya akan baik-baik saja. Manusia punya perasaan, punya pemikiran dinamis, bergerak bebas dan tak cukup membendungnya dengan aturan.

Jadilah pelajaran bagi penguasa-penguasa media, tapi bila tidak…pasti ada pelajaran lebih berat lagi

Pagi

Ya ku nanti kau lagi!!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.